Show me the way

Biasanya, saya selalu menonton acara Mario Teguh Golden Way (MTGW) hanya sebagai rutinitas untuk menemani istri yang memang senang menontonnya. Buat saya sendiri acara tersebut tidak terlalu tidak extraordinary. Oleh karenanya ketika menontonyasaya tidak telalu fokus pada acara tersebut karena diselingi dengan mambaca. Namun pada malam senin kemarin ada hal yang membuat saya berkontemplasi cukup lama bahkan ketika sehabis menonton acara tersebut, yaitu ketika MT (Mario Teguh) menjawab pertanyaan dari pemandu acaranya, Mas Uli, tentang bagaimana membuat kita tetap fokus, tetap menjaga semangat, tujuan, cita – cita yang ingin diraih?

Hidup ini kan selalu harus berjalan dan waktu selalu terus bergerak maju (kecuali bisa dibuktikan teori Om Einstein bahwa waktu bisa dibengkokan). Terkadang dalam bekerja, ada saja selalu hambatan yang memang sengaja dibuat kepada kita maupun hambatan yang kita hadapai karena keluguan kita. Nah, hambatan ini yang sengaja diciptakan dengan maksud yang negatif ini yang biasanya (kebanyakan) akan membuat kita menjadi tidak fokus lagi pada apa yang ingin kita raih. Dan biasanya setelah kita mampu mengatasi hambatan yang pertama maka akan ada lagi hambatan – hambatan berikutnya.

Ada 2 (dua) tipikal penyelesaian yang secara implisit disampaikan pada acara MTGW itu. Tipikal yang pertama adalah konfrontatif. Biasanya seseorang yang dihambat atau dihalangi “jalanya” untuk menuju tujuan akan selalu menganggap bahwa penghalang tersebut harus di”robohkan” atau “dipinggirkan” sebelum orang tersebut bisa melewati jalan itu, bagaimananpun caranya bahkan bila perlu dengan kekerasan. Artinya jika perlu orang yang menghalangi jalan tersebut secara langsung akan dibalas juga oleh orang tertutup jalanya terebut. Pada acara MTGW itu diilustrasikan bahwa tujuan adalah kamera, hambatan adalah Mas Uli yang sedang menutupi pandangan MT yang sedang fokus pada kamera. Lalu MT akan maju dan menggeser Mas Uli kesamping untuk melihat kamera.

Yang kedua adalah dengan cara menghindar namun tidak kehilangan fokus pada tujuan yang ingin diraih. Tipikal penyelesaian ini adalah dengan cara menghindar dengan tidak menggunakan kekerasan dari hambatan/kekangan tersebut namun fokus tidak pernah digeser dari tujuan yang ingin diraih. Dalam acara tersebut diilustrasikan bahwa mas Uli menutupi pandangan MT terhadap kamera dan karena terhalang maka MT menggeser posisinya kesamping supaya fokusnya yaitu kamera masih tetap dapat terlihat. Begitu seterusnya, jika mas Uli mnggeser posisinya lagi untuk menutupi pandangan MT maka sekali lagi MT menggeser posisinya kesamping atau kedaerah yang pandanganya tetap dapat melihat fokusnya atau kamera tersebut.

Nah, moral of the story dari tulisan ini adalah terkadang dalam mencapai tujuan/cita – cita ada saja hambatan yang memang sengaja dibuat oleh atasan, rekan kerja atau bahkan dari lingkungan sekitar. Namun sikap – sikap yang konfrontatif secara langsung menjadi tidak bijak jika kita masih pada posisi yang tidak bisa mengendalikan situasi. Bahwa kita perlu bijak menyingkapi keadaan itu adalah sebuah keharusan. Kadang masalah ego atau harga diri membuat pengendalian diri menjadi sulit dilakukan. Namun berlatih secara terus menerus untuk mengendalikan ego tersebut adalah hal terbaik yang mestinya secara sering dilakukan. Kata orang practice makes perfect, . So, Thanks MTGW…

ayatayatfitnah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s