Intel Senior Teacher

Akhirnya, ada posting baru setelah sekian lama…..insya Allah mulai rajin lagi untuk ngirim posting. Kalau selama ini ga ada posting baru bukan berarti kurang opini buat nulis. Masalahnya cuman malas…klise ya…

Well, mingu lalu baru gua baru balik dari Bandung (Bandung eui…) ngikut pelatihan “Intel Getting Started Cource: Pemanfaatan Simpul Jaringan Informasi untuk peningkatan Mutu Pendidikan”, kerjasama Dirjen PMPTK (Penjamin Mutu Pendidik Tenaga Kependidikan) DIKTI dan Intel Corporation.

Yah.., ngitung – ngitung sih buat jalan – jalan karena menurutku ga ada hal baru dalam pelatihan itu. Kebetulan gua juga dari profesi dosen (unipa) jadi kalau ngomong pedagogik, dikit- dikit bisa lah….,kalau ngomong ICT (Information and Communication Technology), hampir semua pesertanya berlatar belakang IT karena itu ICT literacy mereka berkategory tertinggi (ICT udah pervasive alias ketergantungan buat kami).

Nah, karena itu posting ini bukan untuk sharing pelatihan tersebut tapi lebih pada bagaimana pengalaman berada di Bandung selama pelatihan itu mulai dari dinginya waktu malam Bandung, kegiatan berkarokean (termasuk EYD ya..? pusing amat, yang penting pembaca ngerti, iya ga..?🙂 ) bareng teman – teman setelah pelatihan di NAV karoke yang terdapat di lt.2 Dago Plaza, susahnya nyari taksi di Bandung, ABG Bandung yang kebanyakan over stylish, julukan paris van java yang, menurutku, over rated, sampai pada buruknya jalan dan pemandangan di pengunungan tangkuban perahu, objek wisata yang tersia – siakan.

Karena ini pendapat pribadi jadi pasti relatif dong…alias subjektif….

Pertama. Gua udah tau dari berbagai berita dan teman – teman bahwa Bandung itu kota yang sangat dingin. Cuman waktu berangkat ke Bandung, ga ada Jaket atau sweater yang terbawa. Harapannya (dari pengalaman teman – teman yang pernah berkegiatan bersama BKLN (Biro kerjasama Luar Negeri) atau DIRJEN PMPTK DIKTI, kita di inapin di hotel yang tiap kamarnya ada bed cover– nya di tiap bed. Ternyata tempat pelatihan dan tinggalnyanya di P4TK IPA Bandung ( Jl. Diponegoro 12), yang fasilitasnya mirip LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) di tiap provinsi. Bukannya tidak bersyukur karena, toh, banyak juga orang yang tuna wisma cuman, ya itu tadi, ternyata kamarnya tidak dilengkapi dengan bed cover yang selayaknya. Alhasil karena gua dari daerah panas (Papua Barat eui…) yang tidak terbiasa dengan udara yang begitu dingin maka sampai sekarang masih flu. Apalagi perubahan kondisi tersebut ga ada adaptasinya, buset deh, dingin eui….ehhhhhhhhhhhh…

Kedua. dan seterusnya nanti diisambung ya…Ternyata, kegiatan TOT nya dilaksanakan di dekat P4TK APA yang jaraknya kurang lebih 200 meteran dari Dago Plaza. Setelah kegiatan jam 9 malam WIB teman – teman yang dulunya kuliah di Bandung mengajak kami jalan – jalan di Dago Plaza itu. Karena perginya setelah jam 9an maka tentu saja hampir semua counter udah tutup kecuali yang memang diperuntukan untuk tempat nongkrong-nya anak – anak pencari jati diri alias ABG, salah satunya adalah NAV Karoke. Lalu ada ide untuk sekalian berkaroke ria maka jadilah kita berkaroke sampe jam 12an malam walaupun diantara kami cuman 1 (satu) orang, menurut saya sih, yang suaranya ga bikin merinding yaitu Pak Baim (Ibrahim) dari UNM.

Mungkin karena pada dasarnya teman – teman cuman berniat jalan – jalan alhasil bookingan tempat karoke yang 2 (dua) jam itu terasa lama banget apalagi suara para penyanyinya cuman pas – pasan. :)…..

Ketiga. Entah benar atau tidak, tapi di Kota Bandung sangat sulit buat nyari taksi. Ketika palatihannya tinggal 1 hari, saya disibukkan dengan kegiatan nyari tiket untuk balik ke Manokwari. Nah, setelah saya booking, dan minta diantarkan tiketnya ketempat pelatihan, agen travelnya (kalau ga salah agennya adalah Java start yang lokasinya didepan Masjid UNPAD) ga mau meng-issued tiketnya kalau blom dibayar. Buat saya Bandung adalah kota yang baru karenanya saya ga tau mo nyari ATM dimana. Lagian saya juga meresa kurang aman kalau mentransfer dulu nanti tiketnya diantar. Wah, ga kenal euy….Akhirnya saya minta tolong teman sekamar, Pak Oscar De Lahoya Mone, yang dulunya kuliah di ITB buat nyari ngantar saya ke agen travel tersebut. Nah, ternyata kami butuh waktu kurang lebih 45 menit untuk mendapatkan taksi yang avalilable. Padahal sebelumnya kami telah memesan lewat hotline jasa penyedia taksi di kota tersebut. Akhirnya kami meluncur ke tempat agen travel tersebut, yang masih tetapi buka, walaupun udah jam 10 malam.

Keempat. Entah saya yang kurang gaul atau kampungan tapi beberapa kali ke tempat NAV karoke yang barada di lantai 2 Dago Plaza, hampir semua ABG Bandung yang ada ditempat itu dan pada waktu itu terlihat sangat over style. Dalam benak saya waktu itu adalah mengapa para ABG cewek Bandung sangat suka menggunakan celana yang super pendek untuk tampil didepan umum. Mestinya celana – celan tersebut kan buat dipake tidur saja? Kurang dinginkah kota Bandung? atau para ABG pria yang bergaya centil. Padahal dari mulut mereka keluar kata – kata: Masya Allah, Astagfirullah…, Nah, hal ini tentu membuat sedih. Bagaimana tidak, ternyata banyak para remaja yang menjalani hidup dengan penuh ironi. Disatu sisi mereka sangat ingin meniru atau ikut – ikutan (dulunya kan ga begitu) budaya barat, sementara disisi lain identitas keagamaan mereka juga tetap ingin dimunculkan?  padahal sudah jelas kedua perilaku tersebut kontra-indikasi. Pertanyaan yang muncul dalam konteks ini adalah, masih adakah hubugan antara agama  dengan perilaku serta moralitas dalam hidup? Jika Bandung dijadikan barometer pergaulan dan gaya di Indonesia maka insya Allah, semoga kami dan keluarga kami dijauhkan dari segala godaan syaitan dan Dajjal yang terkutuk.

Kelima. Entah pendapat orang lain tapi menurut saya julukan paris van java buat kota itu over rated. Kalau bangunan bersejarah, saya kira Jogjakarta lebih banyak. Untuk style, entahlah, tapi buat saya kurang pas ya,. entah menurut anda…:)

Enam. Sering kami mendengar gunung tangkuban perahu besarta sejarahnya. Ketika kami menyewa mobil ke gunung tersebut pada besok hari setelah hari terakhir palatihan ternyata gunung tersebut jauh dari lumayan. Apalagi ditambah dengan jalan menuju kegunug tersebut yang begitu ga enak. Kalau saja diantara anda yang baru selesai makan lalu berangkat ke tempat wisata tersebut kemungkinan setelah sampai ditempat pemberhentiannya anda akan mengeluarkan semua makanan yang baru dimakan tadi karena saking jeleknya jalan tersebut. Padahal retribusi masuknya saja begitu mahal jika dibanding dengan fasilias jalannya. Nasib korban iklan…….

Keep in Touch,

P’ Dedi, P’ Harry, P’ Baim, P’ Oscar, B’ Hasriah, P’ Samsul, P’ Sandy, P’ Nur

One response to “Intel Senior Teacher

  1. wah,,, jadi tambah malas denger kata Bandung mungkin Jakarta sama ya?. hehehehe salam dari Aceh untuk Manokwari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s