Pilih Capacity Building or Money…, a Fact

Well, Seperti biasa…menulis kalau hanya ada yang masih mangganjal…maksudnya kalau lagi ada masalah,🙂.

Beberapa waktu lalu, sempat ngobrol dengan dekan tentang peningkatan kapasitas diri. Maksud saya sih sebetulnya asking permission untuk melanjutkan sekolah lagi ke S3. Tapi jawaban beliau secara eksplisit tidak medukung. Secara spontan dalam pikiran saya itu adalah mungkin level pendidikan Pak Dekan juga cuman Master, makanya beliau tidak mengijinkan mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke level Doktoral. Khawatir kalah bersaing kali…:)

Secara eksplisit sih beliau mengatakan tidak akan mengijinkan mereka yang udah mengambil Master untuk melanjutkan ke level Doktoral sebelum mereka yang masih sarjana (undergraduate) memperoleh gelar Master. Itu alasan pertamananya. Alasan keduanya, menurut beliau, karena di Teknik sendiri masih kekurangan dosen. Lalu terpikir dalam benak saya, kapan cukupnya ya? Toh setiap penerimaan CPNS, quota untuk dosen jumlahnya selalu memang sedikit kan? Bahkan menurut orang dari Badan Kepegawaian Negara, untuk penerimaan CPNS Dosen berikutnya baru akan dilakukan tahun 2010. Walaupun masih kabar angin alias gosip, hal ini tentu meresahkan saya dong. Dan menurut Pak Dekan, selama beliau masih Dekan, kebijakan itu tetap akan dijalankan. Nah ini biang masalahnya.

Di Unipa ini, sebagian besar Bapak dan Ibu guru-nya masih S1. Lalu kebetulan Dekannya, baru menjabat selama 1 tahun. Artinya masa jabatanya masih, kurang lebih, 4 (empat) tahun lagi.

Kebijakan ini tentu sangat aneh. Institusi pendidikan tinggi seharusnya kan berlomba untuk meningkatkan kapasitas diri para pengajarnya kan? Bukankan hal itu adalah sebuah investasi? Sama seperti ketika orang tua yang tidak terlalu memanjakan anak. Bukan berarti mereka tidak sayang anak. Tapi itu kan demi kepentingan si anak tersebut ketika nanti dia besar?

Betul bahwa memang di teknik sendiri kekurangan dosen. Tapi bukan berarti sama sekali tidak ada dosen. Kalau memang ada yang ingin sekolah lagi, bukankah harus didukung tuh? tentu dengan menerapkan pola round robin kan? Konsekuesinya memang dosen yang tersisa akan berat beban mengajarnya. Akan tetapi hal tersebut dapat kurangi dengan memberi insentif untuk kelebihan beban mengajarnya kan? Toh, Setiap program studi kan punya dana yang cukup besar untuk dikelola. Diatas itu semua, bukankah kualifikasi dosen yang baik akan semakin menaikan performa dan citra fakultas dan tentu saja universitas tersebut? (Syukur kalau dekannya juga berpikiran demikian). Dan harus diingat pula bahwa mencari beasiswa, apalagi beasiswa dari luar negeri, dengan peserta yang begitu banyak dan seleksi yang begitu ketat, adalah sesuatu hal yang tidak mudah (Tentu bagi mereka yang tidak pernah melaluinya atau hanya berharap BPPS, tidak bisa merasakannya).

Apalagi peluang sekolah tersebut didapat dari Institusi pendidikan tinggi di luar negeri yang kultur pendidikan dan rangkingnya jauh diatas kultur dan rangking pendidikan tinggi di Indonesai. Memang aneh kebijakan tersebut. Jangan – jangan memang benar dugaan awal saya ketika berdiskusi dengan beliau.

Kalau mau menunggu mereka yang s1 mendapat S2 atau menunggu masa jabatanya selesai, kapan sekolahnya? Itupun kalau penggantinya punya kebijakan yang lebih moderat. Kalau tidak? jangan – jangan sekolah nya sambil ngendong cucu lagi….tapi asik sepertinya…:)

Sebetulya saya bukan sedang iseng ketika bertanya hal tersebut kepada Pak Dekan. Sebetulnya saya sudah mempunyai sebuah beasiswa untuk melanjutkan sekolah lagi. Dan dari awal ketika memilih berkarir dalam jalur karir sebagai seorang pengajar, yang ingin saya lakukan paling awal adalah mendapatkan s3 saya secepat mungkin. Karena biasanya kalau dari profesi dosen, katanya, lebih mudah mendapatkan kesempatan tersebut. Kalau hanya mau mencari kerja mungkin dari beberapa waktu lalu saya sudah bekerja dilingkungan pemda sebagai PNS (Maklum, kalau di PEMDA kan urusan kualitas nomor 73, kan? Yang nomor 1 – 72 itu hal – hal yang ga ada ukuran ilmiahnya) atau sudah buka “toko” untuk jualan software.

Oleh karena itu, ketika beberapa waktu lalu ada tawaran untuk berkarir di perusahan sang menjanjikan salary yang besar, saya sangat serius untuk berpikir beralih jalur. Karena ternyata untuk memenuhi dahaga akan ilmu ternyata tidak didukung oleh Institusi yang namanya Pendidikan Tinggi, puihhh….Walaupun dengan salary yang, relatif, cukupan. Bukankah sebaiknya nyari kerja yang sekalian bisa bikin kaya saja…? Karena itu semua, kata seorang teman, kepanjangan UNIPA ini bukan Universitas Negeri Papua tapi Universita Negeri Paling Aneh.

Bagi mereka yang berada dalam lingkungan UNIPA, yang membaca tulisan ini, sebaiknya ini menjadi bahan kontemplasi buat kita semua. Menurut saya, opini ini tidak perlu dijadikan bahan untuk membuat kebijkan yang semakin aneh alias tersinggung….pis men, pisssss….

Salam,

Ided

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s