Salah Etika…………..

Well, dalam tingkatan apapun dan dalam kadar apapun, penulis pikir kita musti tetap mempelajari berbagai etika (etiket) dalam tempat dimana kita berpijak itu. Termasuk dalam tempat kerja……

Nah, seorang dosen, dalam tingkatan struktur formal apapun tetap juga harus memperhatikan hal – hal tersebut, apalagi ya…..Bahkan seorang dosen, yang nota bene adalah seorang pengajar, (bukan pendidik, menurut penulis itu 2 hal yang arguable) harus lebih serius memperhatikan hal tersebut….

Nah di Tempat penulis bekerja in agak aneh. Tanya kenapa..?🙂..Menurut penulis bahkan seorang dekan-pun tidak boleh mengintervensi seorang dosen pengampu mata kuliah yang tidak berada dalam jabatan struktural hanya karena seorang mahasiswa merasa tidak dapat/lambat pengikuti perkuliahan sang dosen tersebut. Metode yang digunakan seorang dosen dalam kelas tentu berbeda – beda. Anda, siapapun anda, tentu tidak dapat mengatakan bahwa metode seorang dosen salah hanya karena metodenya tidak sama dengan metode yang anda gunakan atau belum pernah anda temui. Sepanjang metode tersebut tidak menyalahi aturan – aturan yang ada, anda tentu butuh banyak pakar dan waktu penelitian untuk sampai pada kesimpulan bahwa metode tersebut kurang/tidak efektif. Atau bisa saja anda sampai pada kesimpulan sebaliknya. Metode kan tergantung situasi saat itu, varibel yang digunakan, input-anya , dlllllll sebagainya yang tentu berbeda jika ditemui hal yang berbeda pula. Kalau tidak tentu mereka yang bergelar PhD tentu semuanya adalah pemenang hadiah nobel…………

Penulis sulit membayangkan, dalam cerita penulis ini, kalau ternyata dekannya adalah sorang master (Strata-2) lalu sang dosen adalah seorang professor. Anda gimana…? Kalau dalam dunia persilatan Asmaraman S Kho Ping Hoo itu sama saja seorang Suling Emas mengatakan kalau jurus Bu Kek Siansu kurang mantap…atau dalam jagad persilatan ala Bastian Tito, seorang Wiro Sableng mengatakan kalau jurus Eyang Sinto Gendeng kurang ampuh…:D

Namun hal itu yang penulis rasakan di tempat kerja penulis saat ini. Penulis pikir kalau seorang pemimpin tidak paham tentang etika bagaimana memimpin maka akan sulit mensinkronkan antara antitas yang dipimpinnya itu. Apalagi kalu memang pemimpinya itu bermental birokrasi, merasa paling benar hanya karena berada dalam jabatan sruktural, celakalah dunia………..dan itu terjadi di pendidkan tinggi negeri yang formal…, aneh memang..

Dalam Dunia pendidikan tinggi, memang kita kenal pepatah semakin berisi semakin menunduk, tapi banyak dari kita yang cuman menghafal pepatah itu. Tak tahukah kita bahwa semakin kita tahu maka kita akan merasa semakin tak tahu……..

Enjoy….!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s