Kontemplasi Lagi…..(1)

PART ONE

Lagi-lagi penulis ingin mengingatkan diri penulis sendiri bahwa sebenarnya blog ini akan menampung segala interest field penulis dalam bidang research. Namun entah bagaimana sehingga semua opini, ya termasuk yang rubbish, yang terlintas dalam kepala penulis juga ikut dicurahkan disini. Dan dugaan penulis, kebanyaakan opini – opini yang akan anda baca nantinya merupakan opini penulis tentang lingkunan tempat penulis berinteraksi. Entah itu lingkungan kerja, tempat tinggal, tempat yang sering atau malah yang hanya pernah sekali lewat, daerah geografis dan lain sebagainya yang kesemuanya itu lebih bersinggungan pada tataran sosial-kultural-ekonomi. Bahkan mungkin saja walaupun opini – opini yang tertuang nanti tidak secara eksplisit menyatakan kebersinggunan dengan daerah – daerah tersebut namun secara implisit, penulis yakin, kemungkinan berhubungan dengan daerah – daerah tersebut.

Tentu kesemuanya itu hanya merupakan opini. Karena itu anda tentu tidak bisa mempertanyakan kompetensinya. Sebab sudah jelas penulis tidak memiliki kompotensi apapun dalam menulis field tersebut secara formal. Namanya juga opini, bisa datang dari siapa dan kapan saja kan…😀. Karena sedari dulu penulis tetap seorang engineeeeeeer. Dan engineer kan juga manusia…:D.

Penulis tetap menulisnya (opini – opini tersebut) bukan karena maksud hati penulis ingin beralih kompetensi menjadi seorang sosiologi atau ekonom atau atropolog (Sempat terpikir juga, tapi udah telat …🙂), bukan juga karena menjadi seorang engineer lebih penulis minati namun karena hal – hal tersebut yang lebih banyak penulis hadapi ditempat tinggal yang baru sekarang, yaitu Manokwari, Papua Barat. Masalah itu – itu saja yang kerap muncul dalam keseharian. Ya akhirnya hal – hal itu yang mendatangkan ide. Hehehe…maksudnya sebagai bahan untuk menulis. Maklum baru belajar menulis, 🙂.

Tantangan Menulis

Nah ini dia. Ternyata menulis itu tidak semudah yang dibayangkan orang. Penggunaan bahasa, penggunaan dan pemilihan kata, bagaimana membuat kalimat, mengatur ritme antarkalimat dalam paragraph atau alur tulisan, ternyata tidak mudah. Semakin mudah dan enak dicerna oleh pembaca dan dipahami orang malah semakin sulit menulisnya. Dan ternyata butuh courage yang begitu besar untuk memulai menulis. Karena tidak banyak dari kita memiliki itu. Walaupun banyak sekali hal yang dapat ditulisnya. Kata seorang teman, bagaimana tulisan kita menguasai pembaca adalah merupakan sebuah keberhasilan seorang penulis. Entahlah……

Alhasil penulis menjadi hakkul yakiinn alias paham bahwa mengapa diIndonesia tidak banyak judul buku yang terbit setiap tahunnya dibanding dengan Negara – Negara lain disekitarnya. Dibanding Malaysia, yang katanya dulu pernah menjadi “murid” kita atau vietnam yang baru merdeka dan baru membangun, kita sangat jauh tertinggal dalam hal produktifitas menulis. Buku – buku baru yang terbit, yang ditulis oleh orang kita, hanya sepersepuluh dari judul – judul buku yang mampu dihasilkan oleh penulis – penulis negeri tetangga. Bahkan menurut sebuah survay yang dilakukan tahun 2005, ternyata di Vietnam, jumlah pemegang gelar strata S3 hampir satu setengah kali lebih banyak dibanding jumlah S3 di Indonesia. Artinya bisa banyak sekali buka…? Tentu kita tidak bisa menggeneralisasi pendidikan tinggi Vietnam lebih baik dari Indonesia. Menyedihkan memang…

Terlepas dari penghargaan terhadap seorang penulis yang terlalu rendah yang membuat kita menjadi enggan menulis, pembajakan yang begitu terang – terang-an dalam segala aspek, yang begitu marak di negeri in. imoelmentasi HaKI dengan banyak bekingan oknum aparat (penulis bisa menunjukannya). Hal – hal tersebut pada akhirnya membuat banyak orang yang sebetulnya potensial untuk menulis menjadi enggan menulis. Disamping itu ternyata banyak dari kita hanya membaca sebuah buku karena teman lain juga sedang membaca buku itu. Kita belum sadar pentingnya membaca. Dan diatas itu semua ternyata budaya kita memang cuman NATO, bukan North Atlantic Treaty Organization atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara , itu loh “kendaraan” politik-militer AS tapi NO ACTION TALK ONLY alias BISANYA NGOMONG DOANK. yaitu bisanya cuman komentar doank, seperti para komentator tadi itu. Karena itu di engineering kan ga ada kata pengamat, yang ada kan cuma praktisi…:).

TO BE CONTINUED…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s