Over skill di Pendidikan Tinggi…kok?

Intermezo

Mudah – mudahan judulnya sesuai dengan isi tulisan ini. Seperti tulisan – tulisan sebelumnya, kadang menurut saya judulnya tidak pas dengan isinya. Tapi biarlah..namanya juga orang baru belajar menulis, heheheh…:D.

Seperti penggunakan kata saya dan penulis. Kadang penulis penggunakan kata saya tetapi dalam tulisan lain kadang saya menggunakan kata penulis, binggung lagi kan…:D. Sebetulnya dalam tulisan – tulisan manapun penggunakan kata saya sudah penulis hindari. Nanti dikirain narsis lagi…Tapi setelah melalui kontemplasi (Walah Ngayanya..,segitu aja pake kontemplasi segala) sepertinya ga pa pa. Namanya juga blog…hehehe..silahkan lewat…kalo ga berhenti juga ga papa..

Nah, tulisan kali ini akan berisi diskusi penulis atau lebih tepatnya obrolan penulis dengan teman yang kebetulan ngajar di jurusan komputer. (Walau sebetulnya menurut penulis bukan kompetensinya. Tapi begitulah kalau dosennya kurang. Tapi…. ini pendidikan tinggi formal, bung,! Penulis tetap berpendapat bahwa tidak bisa seseorang hanya dengan latar belakang pernah tahu atau kursus sebuah bidang keahlian teknis tertentu, katakahlah komputer, lantas bisa mengajar di sebuah jurusan (komputer) dalam sebuah institusi pendidikan tinggi yang legal formal. Bagaimana kompetensinya? Memangnya ini pasar?.

Masalahnya bermula ketika penulis secara “bercanda” mengkritik kebanyakan dosen yang nyari duit lewat mahasiswa…Bahwa kebanyakan para dosen disini hanya berkutat dikampus, mengajar teori yang sama yang selalu diulang tiap semester atau jika kelasnya pararel diulang tiap minggu atau mungkin saja diulang tiap hari tergantung jadwal…

Lalu kritik yang berikutnya adalah penulis mengritisi tetang kebanyakan dosen dijurusan yang ribut masalah uang periksa pengawasan ujian (atau entah apa namanya…) yang besarnya, kalau di Papua hanya cukup buat beli nasi ayam satu bungkus, itupun masih harus nombok IDR 5.000 .

Lalu yang terakhir adalah kritik yang penulis kemukakan tentang pemikiran kebayakan dosen disini yang (entah karena sifat ketakutan berkompetisi atau jealous atau apalah namanya…) muncul ketika penulis melemparkan ide untuk sebaiknya mengampil PhD bagi dosen – dosen disini daripada hanya mengurusi administrasi melulu, lalu melakukan korupsi kecil- kecilan (karena dananya juga kecil , entahlah kalau dananya besar. Padahal dana kecil saja sudah seperti itu ya..)

Kadang rasanya begitu menyedihkan ketika melihat banyak dosen yang sibuk ngurusin administrasi jurusan sampai program studi (Kapan ngurus penelitian ya?). Yang lebih menyedihkan lagi adalah banyak diatara dosen – dosen yang nyari duit lewat mahasiswa. Ketika tersedia dana untuk mengurus urusan – urusan administrasi maka para dosen tersebut begitu bersemangat untuk melakukanya. Lalu, kalau itu urusan penelitian maka ada saja kendala yang muncul.

Pendidikan dalam OTSUS, Ngomong Doank…

Menyedihkan memang. Apalagi kelau bicara pada tataran yang lebih luas. Negara, misalnya. Penghargaan terhadap dosen yang tidak berimbang dengan tugas dan fungsinya, dukungan dari pemerintah daerah yang tidak pro kemajuan dan lain sebagainya. Emangnya dosen bukan manusia? Namun yang membuat penulis semakin sedih adalah mental para dosen tersebut. Bagaimana mungkin institusi pendidikan tinggi, yang harusnya menjadi basis penelitian sebuah bangsa dan daerah, penghasil sumber daya manusia, berperilaku seperti demikian. Menyedihkan memang.

Nah, ini yang paling parah, yaitu hal ini terjadi di Provinsi Papua dan Papua Barat. Provinsi yang secara geografis sangat jauh dari Jakarta, secara sosio-kultular paling tertinggal dibanding daerah lain, akses informasi yang sulit, rata – rata tingkat pendidikan yang rendah, dan lain sebagainya (Harus kita akui itu!!!), masih saja berpikiran demikian. Katanya Papua baru, ini kan era OTSUS…Apa kita nggak sadar-sadar kalau kita ini sebetulnya begitu jauh sangat tertinggal dalam membangun. Apa kita nggak sadar kalau daerah lain atau bangsa lain mengejar kemajuan sambil berlari bahkan kalau bisa mereka berlari sambil terbang (kalau bisa) dalam mengejar ketertinggalan. Sementara kita disini malah semakin menggali lubang kita untuk mengguburkan diri…, Sungguh….(Sudah tidak bisa berkata – kata nih sangking kesalnya.

Lalu saran penulis kepada teman – teman dosen tersebut, ketika melihat hal tersebut penulis berkomentar bahwa sebaiknya dosen mengembangkan kapasitas diluar (maksudnya diluar kampus, dengan mambuat konsultankah, menjadi konsultankah, mengerjakan apalah..,dsb.). Karena hal itu kan jauh lebih baik dan terhormat dari pada mencari duit dari mengurusi hal – hal administrasi yang sangat tidak melatih otak dan tanggungjawab. Bahkan dengan membangun kapisitas serta kapabilitas diluar kampus maka para dosen tersebut akan semakin dapat mengimplementasikan ilmunya dalam dunia nyata, dikenal diluar sebagai cendekiawan yang memang berguna bagi masyarakat luas (tidak hanya mengajar segelintir mahasiswa dalam kelas saja) dari pada sekedar menyampaikan teori dikelas yang kadang – kadang juga belum tentu betul. Hanya karena mahasiswanya kurang paham saja maka kuliahnya menjadi betul (tidak dipertanyakan).

Barikutnya yang lebih menyedihkan lagi adalah tentang sikap para dosen disini yang merasa tidak perlu menambah pengetahuan lagi dengan mengatakan akan terjadi over skill jika dosen – dosenya berpendidikan tinggi disini. “Bukankah sekarang saja dosennya udah begitu superior….” begitu kata salah satu teman dosen. Memang menyedihkan ya…, Walaupun ini Papua (+Papua Barat) namun bagi seorang dosen membangun kapasitas diri untuk menjadi yang terdepan, terbaik harus selalu menjadi sikap yang selalu dinomorsatukan. Mudah – mudahan…

Seperti layaknya sebuah opini, tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan siapapun. It just an ideayou might agree or disagree with that. All you have to do is just use your open mind to digest it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s