Penentuan 1 Ramadhan(Syawal), Mengapa merumitkan diri?

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Maksud dari tulisan ini hanya untuk sharing, sebagai sesama muslim yang tersebar dipojok – pojok negeri yang memiliki 3 (tiga) daerah waktu yang berbeda…,tidak untuk memcerahami apalagi menggurui mereka yang terhormat…

Seingat saya, dalam menentukan 1 syawal, mulai dari ketika saya sudah dapat memahami makna puasa dan makna yang tersembunyi didalamnya, hampir tak pernah, jika tidak ingin dikatakan tidak pernah, selalu membuat bingung umat, terutama yang ada berada pada belahan paling timur negeri ini. Bahkan menurut saya menyusahkan para pengambil keputusan sendiri. Padahal Allah SWT tak sekalipun ingin menyusahkan hamba – hambaNya, apalagi yang ingin mendekatkan diri kepadaNya. Allah SWT adalah Maha Tahu segal kekurangan ciptaaNya.

Dalam penentuan 1 syawal, ada 2 (dua) metode yang dapat digunakan, dengan hisab atau perhitungan, yaitu menggunakan pengetahuan ilmu perbintangan yang telah berkembang sejak jaman Rasulullah SAW dan menggunakan ruhkyat, yaitu menggunakan cara konvensional dengan melihat hilal alias ketinggian bulan. Bahkan menurut saya, seiring dengan berkembangnya pengetahuan umat manusia, menentukan 1 syawal dapat juga dilihat berdasarkan pada ketinggian air laut. Bukankah pasang surutnya air laut ditentukan posisi bulan? Lalu bagaimana menentukan air pasang saat itu adalah bulan baru atau bukan? Tanyalah pada ahlinya: Para Nelayan. Mereka begitu ahli dalam menentukan penaggalan menggunakan metode – metode dengan memanfaatkan fenomena alam seperti itu.

Di Indonesia, dalam penentuan 1 syawal, pemerintah selalu menggunakan metode yang kedua alias konvensional. Masalahnya yang timbul adalah bagaimana kalau datangnya bulan ramadhan bersamaan dengan datannya musing penghujan. Apalagi perubahan iklim saat ini yang sangat sulit diprediksi. Bukankah metode astronomi dapat digunakan? Kalau boleh menganalogikan (entah nyambung atau tidak, :)), bukankah salat jamak dianjurkan dalam perjalanan? Toh, nilai pahalanya tetap sama dengan shalat seperti biasanya. Mengapa harus memaksakan diri mengerjakan shalat seperti waktu – waktu biasanya kalau hal itu akhirnya akan mambuat seseorang menjadi tidak sholat? Allah SWT atas segala sesuatu yang telah , sedang dan akan terjadi.

Harus diakui bahwa di Indonesia ada 2 (dua) ormas islam terbesar, yaitu Muhammadiyah (MUH) dan Nahdatul Ulama (NU). Saya bukan MUH bukan pula NU. Tetapi pemerintah dapat mencontoh apa yang dilakukan MUH. Toh, hal itu sah dalam agama, kan? Ummat hanya perlu kepastian. Bukahkan hal – hal yang abu – abu dalam agama tetap harus diputuskan menggunakan landasan Alquran dan Assunnah?

Pertimbangan lainya adalah, Indonesia begitu luas, memiliki 3 (tiga) daerah waktu, yang masing – masing daerah waktu berselisih kurang lebih 60 menit. Bisa dibayangkan kalau pemerintah selalu memutuskan sesuatu menggunakan patokan WIB (Waktu Indonesia Barat), sementara perbedaan WIB dan WIT (Waktu Indonesai Timur) adalah 120 menit. Artinya, kalau pemerintah belum memutuskan sesuatu pada jam 19.30 WIB maka waktu di Indonesia bagian timur telah menunjukan pukul 21.30 WIT. Padahal waktu shalat isya di Indonesai bagian timur adalah 19.30 WIT.

Tentu saja hal tersebut sangat meresahan ummat yang ada di Indonesia Timur. Bisa dibayankankan kalau ummat didaerah tersebut pada jam 22.00 WIT belum mendapatkan kepastian apakan mereka perlu melakukan shalat tarawih pada malam tersebut atau besok malamya?

Menurut saya, pertimbangan – pertimbangan geografis, sosio – kultural demi kemaslahatan ummat perlu dipikirkan dengan lebih proporsional. Bukannya menjastifikasi rasionalitas menggunakan dalil – dalil agama tapi toh agama membolehkan hal tersebut, dalam konteks penentian 1 syawal kan?

Mudah – mudahan, para pengambil kebijakan saat ini, yang nota bene berasal juga dari kalangan NU dapat memperhatikan hal tersebut dengan lebih serius. Bukan meminta mereka mengikuti MUH tapi mengikuti Allah dan RasulNya demi kebaikan dan ukhuwah ummat kedepan.

Wassalam,

4 responses to “Penentuan 1 Ramadhan(Syawal), Mengapa merumitkan diri?

  1. sugeng winarno

    assalamu’alaikum wr. wb.

    mohon maaf yang sebesar besarnya. memang dalam penentuan awal puasa maupun awal syawal sebagai umat kita sering dibingungkan dengan banyaknya pendapat ulama. mestinya (menurut ana) kita tidak usah keminter atau mendahului apa yang dilakukan Rosulullah Saw waktu dulu. Kalau kita merujuk jaman Rosulullah penentuan tersebut sangat mudah dan simple, tinggal menghitung aja kalau tidak 29 hari ya 30 hari. jika 29 hari tidak melihat bulan berarti tinggal menambah/menggenapkan menjadi 30 hari. saja , lainnya tidak ada.
    wassalam

  2. Ass.wr.wb.
    Trims atas uraiannya. Sepertinya saya pribadi lebih cenderung kepada hal-hal yang matematis , bukannya tidak percaya kepada hal-hal yang konvensional. Karena bagaimanapun juga, yang namanya peredaran planet/bulan/surya dari dulu jaman Nabi hingga sekarang adalah tetap sama, tidak pernah nambah 1 hari atau kurang 1 hari…. Yang berubah hanya manusianya saja. Begitu sobat. Thanks a lot. Wass.

  3. Waalaikumsalam Wr. Wb.

    Trimakasih atas tanggapanya…Pertama, Kalau menyingkat Waalaikumsalam Wr. Wb., saya lebih cenderung menggunakan Asslm, atau yang lain selain ass (Ass= pantat dalam bahasa inggris yang asal muasalnya dari prancis yang bertendensi tertentu…). Kedua. Saya sendiri kurang sepakat sial rasionalitas lebih dipilih. Sebab dalam agama Islam, banyak hal – hal yang tidak dapat dijelaskan menggunakan rasionalitas tapi menjawabnya menggunakan kepercayaan saja.

  4. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Jika kalian melihatnya (hilal bulan Romadhon) maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (hilal bulan Syawwal) maka berhari rayalah, akan tetapi jika ia (hilal) terhalang dari pandangan kalian maka kira-kirakanlah”, dalam riwayat lain “…maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhori dan Muslim) dalam hadis ini kan sudah jelas yang diutamakaan adalah dengan metode rukyatul hilalbukan dengan hisab, lantas mengapa hisab masih dijadikan landasaan???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s